PANGARIBUAN – Bumdes Satahi Desa Pakpahan menjadi sorotan warga sebab anggaran yang besar yang dikucurkan dari 20% dari dana desa Pakpahan tahun anggaran 2025 tidak menjamin kualitas pertanian Bumdes Satahi Desa Pakpahan, menurut warga, bahwa usaha pertanian tanaman jagung itu dilakukan tidaklah serius dan diduga asal jadi.
” Jagung warga saja tidak seperti itu kurusanya, padahal itu masih modal kecil loh! Ini kita tahu kok besar anggarannya! Tapi kemana semua uangnya? Apa tidak ada uangnya beli kompos?” ujar Pakpahan warga Desa Pakpahan.(18 Mei 2026)
Warga mengatakan bahwa pengadaan barang dan jasa untuk pertanian jagung tersebut harus benar-benar diperiksa.
” Harus diperiksa, berapa sak pupuk kimia dan pupuk kandang yang dibeli juga berapa HOK di SPJnya nanti.!! Biar jelas!” ujar Pakpahan.
Menindak lanjuti keluhan warga tersebut, DPD LSM LAPAN TIPIKOR INDONESIA Sumut yang langsung turun ke lapangan merespon informasi dari warga Desa Pakpahan, Aris Pasaribu Kordinator Investigasi mengatakan bahwa penanaman jagung tersebut hanyalah buang-buang anggaran.
” Anggaran gemuk tapi jagungnya kurus, logikanya dimana ini? Temuan ini kita akan telusuri lebih dalam lagi. Dan akan kita laporkan ke Inspektorat karena hal ini sangat kuat dugaan dilakukan tidak sesuai dengan juklak dan juknis dalam pertanian jagung.” jelas Aris Pasaribu.
Menurut Aris Pasaribu anggaran Rp.170juta hanya menghasilkan batang jagung yang kurus kerempeng tentu sulit untuk balik modal.
“Kalau batang dan tongkolnya saja sudah kurus kerempeng, ini tentu kekurangan perawatan termasuk pemberian pupuk kandang dan pupuk kimia. ” kata Aris.
Aris Pasaribu juga menyayangkan BUMDes Desa Pakpahan dikelola oleh orang yang kurang berkompeten dalam pertanian jagung tersebut.
” Hal ini nanti kita akan laporkan ke pihak terkait. Kita coba ikuti dulu sampai peng-SPJannya. Sebab tidak mungkin hal ini dilakukan secara benar tapi hasilnya begini.” ujar Aris.
Menindak lanjuti hal tersebut, Jupri Pukka Pakpahan Direktur BUMDES SATAHI mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah karena kekuarangan perawatan, dan Jupri Pukka Pakpahan masih optimis untuk surflus dalam pertanian tersebut.
” Itu karena musim hujan itu, jadi kompos itu dibawa air ke tempat yang lebih rendah makanya dibagian yang rendah itu jagungnya lebih baik.” jawab Jupri Pukka Pakpahan.
Menanggapi pernyataan Direktur Bumdes tersebut, Aris Pasaribu merasa tertantang mengatakan tidak mungkin hal itu bisa terjadi.
” Bagaimana ceritanya,? tapi nantilah kita buktikan.! Dari SPJnya nanti kita tahu itu apa saja yang dibelanjakan dan HOKnya berapa! kalau tidak sesuai kita kawal sampai dengan tuntutan ganti rugi (TGR) atau pengembalian.” kata Aris.
BUMDes Satahi Desa Pakpahan tetap menjadi sorotan LSM LAPAN TIPIKOR, dan warga Desa Pakpahan juga berharap agar penggunaan 20% Dana Desa dari Desa Pakpahan benar-benar diperiksa demi penyelamatan uang negara yang bersumber dari pajak rakyat.
(Red)















