banner 468x60
BeritaDaerahKota BitungProv. Sulawesi Utara

Rumah Retak, Ketakutan Menetap: Blasting Diprotes Warga Pinasungkulan

Avatar photo
55
×

Rumah Retak, Ketakutan Menetap: Blasting Diprotes Warga Pinasungkulan

Sebarkan artikel ini
Oplus

BITUNG – Ketegangan antara warga Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu, dan pihak perusahaan tambang kembali mencuat menyusul aktivitas blasting di sekitar wilayah permukiman.

Warga menilai kegiatan tersebut menimbulkan dampak serius terhadap rasa aman dan kondisi tempat tinggal mereka.

banner 468x60

Sejumlah warga menyampaikan bahwa getaran akibat peledakan dirasakan hingga ke dalam rumah, memicu kerusakan bangunan serta kekhawatiran berkepanjangan.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya informasi yang diterima masyarakat terkait jadwal dan pelaksanaan blasting.

Salah seorang warga Pinasungkulan Esty Ineke Sumilat mengungkapkan bahwa aktivitas peledakan telah berlangsung dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dan kembali dilakukan dengan jarak yang dinilai terlalu dekat dengan permukiman warga.

Baca Juga :  Kebakaran di Kementerian ATR/BPN, Secara Fungsi Tidak Ada yang Terganggu, Kepala Biro Humas: Kita Tetap Bisa Melayani Masyarakat

“Getaran terasa sangat kuat dan berulang. Beberapa bagian rumah mengalami kerusakan. Yang paling berat adalah rasa takut, karena kami tidak tahu kapan blasting akan dilakukan,” ujarnya.

Ketidakpuasan warga kemudian bermuara pada aksi protes sebagai bentuk tuntutan agar perusahaan lebih memperhatikan keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasional tambang. Kamis (05/02/2026).

Menanggapi situasi tersebut, Ketua Umum Persatuan Organisasi Lintas Agama dan Adat (POLA) Kota Bitung, Puboksa Hutahaean, Ia menilai aktivitas blasting telah melampaui batas kewajaran dan menunjukkan minimnya kepedulian perusahaan terhadap keselamatan warga di sekitar area tambang.

Baca Juga :  Pemerintah Kabupaten Samosir Serahkan SKK Kepada Kejari Samosir Untuk Menangih Tunggakan Pajak Daerah 

“Kami melihat langsung dan merasakan sendiri dampaknya. Dari jarak jauh saja getarannya terasa, apalagi rumah-rumah yang dekat. Ini bukan sekadar gangguan, tapi ancaman serius,” tegasnya.

Puboksa juga menyoroti dugaan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan, termasuk perubahan alur sungai dan kawasan lainnya. Menurutnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan bencana lingkungan jika tidak segera ditangani.

“Perusahaan mengambil emas dari perut bumi, tetapi mengabaikan keselamatan masyarakat. Negara tidak boleh diam. Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, dan Kementerian HAM harus turun langsung,” ujarnya.

Baca Juga :  PJ Buapti Dan Dandim 0209 LB Kabupaten Labuhan batu, Gelar Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pos Koramil Pangkatan

Ia mendesak pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas blasting, termasuk mempertimbangkan relokasi sementara warga guna mencegah jatuhnya korban.

“Jika tidak ada tindakan tegas, gelombang aksi masyarakat yang lebih besar akan turun ke perusahaan. Jangan tunggu bencana baru bertindak,” pungkasnya.


Sementara itu, pihak PT MSM/TTN melalui juru bicaranya Sinyo Rumondor menyampaikan bahwa perusahaan masih melakukan komunikasi dengan masyarakat guna mencari penyelesaian atas persoalan yang terjadi.

Perkembangan selanjutnya, menurut perusahaan, akan disampaikan setelah proses komunikasi dan evaluasi internal selesai dilakukan. (Lan)

banner 468x60
banner 468x60
Berita

Bravo Sat Reskrim Polres Tanah Karo Ungkap Kakak…

error: Content is protected !!