Balige – Pembangunan dan Rehabilitasi gedung sekolah SMA Negeri 2 Balige rawan penyelewengan, faktanya bahwa pembangunan dan rehabilitasi tersebut masih menggunakan Besi bongkaran bekas bangunan yang lama.
” Nah ini kan besi bekas, masa dari bangunan yang sudah lama dipasang lagi? Apakah ini sesuai dengan RAB? Ini menjadi temuan merupakan kejanggalan. Ini sangat rawan penyelewengan.” ungkap Aris Pasaribu salah satu pemerhati Pendidikan.(5 November 2025)
Dikonfirmasi kepada Ani Nadapdap, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Balige menyatakan bahwa besi bekas bongkaran tersebut akan dilelang.
” Mohon kita semua memberi Perhatian agar rehab itu berjalan dengan baik, karena sdh 3 tahun gedung itu ridak terpakai, Puji Tuhan Tahun ini sekolah kita diberi Kesempatan utk rehab.” jawab Ani Nadapdap lewat aplikasi Wa.

Ditanya, menggunakan besi bekas pada pembangunan dan rehabilitasi SMA Negeri 2 Balige apakah itu sesuai dengan juklak dan juknisnya?
“Jika itu dilaksanakan , itu tidak sesuai, Ini harus dilelang pak.” jawab Ani Nadapdap.
Berbeda dengan keterangan seorang anggota Panitia bahwa penggunaan besi bekas bongkaran dari bangunan lama itu sudah sesuai dengan juklak dan juknisnya. Ditanya apakah dia pernah melihat RAB?
” Sesuai juknis bisa, pernah. Itu sudah dimasukkan dalam perubahan RAB.” jawab Sitompul salah satu anggota panitia pembangunan SMA Negeri 2 Balige.
Sitompul menjelaskan bahwa di RAB lama, besi bekas tidak dimasukkan di RAB lama dan setelah RAB diperbaharui maka besi bekas bongkaran yang layak pakai bisa dipergunakan.
Ditanya, tentang perubahan RAB dengan anggaran yang sama, RAB sebelumnya tidak menggunakan besi bekas bongkaran dan RAB perubahan bisa menggunakan besi bekas, apakah anggarannya akan berkurang?
” Anggarannya tetap seperti itu pak, tetap seperti itu jumlahnya kalau masuk dari kementerian,” jawab Sitompul.
Menanggapi pernyataan Panitia, Aris Pasaribu menyatakan bahwa pembangunan tersebut tanggung jawab Kepala Sekolah,
” Revitalisasi ini adalah swakelola tentunya adalah tanggung jawab kepala sekolah. Jawaban anggota panitia dan kepala sekolah sangat berbeda. Hal ini perlu diawasi, dan jika tidak banyak pengembalian, itu mustahil.. Untuk membeli besi barunya kemana uangnya? Kita belum lakukan peliputan terkait penggunaan Dana Bos..” jelas Aris.
(Timbul Simanjuntak)









