Pangaribuan – Warga Desa Pansurnatolu, Kecamatan Pangaribuan resahkan pengelolaan Dana Desa khususnya 20% untuk ketahanan pangan yang dikelola oleh BUMDes Dolok Saut, warga menuding bahwa pertanian penanaman Kentang hanyalah akal-akalan.
“Yang kita dengar-dengar semuanya hancur, ini hanyalah akal-akalan cari uang. Coba diperiksa berapa jumlah bibit, pupuk, herbisida dan pestisida. Dikasus ini yang kebanyakan mark up ini. Ini harus diperiksa oleh aparat penegak Hukum.” ujar inisial K warga Pansurnatolu. (30 April 2026)
Menindak lanjuti hal itu, Hemat Nainggolan sebagai direktur BUMDes Dolok Saut juga membenarkannya bahwa usaha tersebut jelas merugi.
Ditanya, berapa jumlah anggaran untuk Ketapang dari Dana Desa tahun anggaran 2025?,
” Semua Rp.182juta, untuk beli alat Rp.35juta. Untuk membeli bibit Rp. 48juta.” jawab Hemat.
Ditanya berapa pendapatan kotor setelah dijual hasil dari pertanian kentang tersebut?
” Rp 10juta,” jawabnya.
Hemat Nainggolan mengatakan bahwa dari pertanian kentang dengan luas 1 Ha tersebut hanya menghasilkan 2,5Ton.
“8 ton pun tidak dapat, kenyataannya hasilnya 2.5ton.” jelasnya.
Menanggapi pernyataan Hemat Nainggolan, warga Desa Pansurnatolu pun mengatakan bahwa hal tersebut subgguh ironis,
” Hahahah.. Bagaimana ceritanya? Modal Rp 182juta, beli alat-alat (kultivator, semprot, angkong,dll) berjumlah Rp.35juta. Berrti masih sisa Rp. 147juta. Masa Rp.147juta modal hasilnya hanya Rp.10juta. Berarti BUMDes Dolok Saut merugi Rp. 137juta Tidak masuk akal, Hahaha.” jelasnya.
Kerugian Rp.137juta ini perlu diperjelas kemana saja aliran dana tersebut menurutnya,
” Satu periode tanam kentang langsung merugi Rp.137juta. Bagaimana ceritanya?” tutupnya.
Warga Desa Pansurnatolu berharap bahwa kasus ini harus diusut oleh aparat penegak hukum (APH) agar kasus ini terang benderang demi penyelamatan uang rakyat.
(Tim)















