Kupang – Peluncuran buku “Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT” menjadi momentum penting dalam membuka ruang evaluasi publik terhadap kinerja pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama satu tahun terakhir.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menegaskan bahwa refleksi kepemimpinan tidak boleh berhenti pada laporan formal pemerintah, tetapi harus berangkat dari pengalaman nyata masyarakat sebagai penerima kebijakan.
Menurutnya, ukuran keberhasilan tidak hanya dilihat dari program yang dijalankan, melainkan dari sejauh mana kebijakan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Refleksi ini adalah cermin. Kita ingin melihat bukan hanya apa yang sudah dikerjakan, tetapi apa yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Buku yang ditulis oleh sekitar dua puluh penulis lintas latar belakang ini diedit oleh Rudy Rohi. Ia menekankan bahwa buku ini tidak disusun untuk membangun narasi keberhasilan semata, melainkan sebagai ruang terbuka bagi publik untuk memberikan penilaian secara kritis.
Menurut Rudy, refleksi yang dihadirkan dalam buku ini memperlihatkan dinamika antara harapan dan kenyataan yang mulai bergerak menuju titik temu, meskipun berbagai tantangan pembangunan masih terus dihadapi.
“Kami tidak ingin buku ini menjadi alat legitimasi, tetapi sebagai bahan refleksi bersama yang jujur dan terbuka,” jelasnya.
Soroti Program Prioritas dan Arah Pembangunan
Selain memuat refleksi, buku ini juga menyoroti berbagai capaian program prioritas pemerintah, termasuk Quick Wins dan implementasi Tujuh Pilar Pembangunan yang diusung oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma.
Berbagai program tersebut dikaji dengan pendekatan yang lebih populer namun tetap berbasis data lapangan, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Johni Asadoma mengakui bahwa satu tahun pemerintahan belum cukup untuk menjawab seluruh persoalan di NTT. Namun, ia menilai periode tersebut sebagai langkah awal dalam membangun fondasi pembangunan yang lebih kuat dan terarah.
Semangat Ayo Bangun NTT, lanjutnya, diharapkan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, baik di daerah maupun diaspora, dalam mendorong kemajuan daerah.
Peluncuran buku ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi titik awal penguatan budaya evaluasi publik yang konstruktif, demi mewujudkan NTT yang lebih inklusif, maju, dan berkelanjutan.
(Kevin)















