Malaka – Kim Taolin berbeda dengan yang lain. Berbeda dengan bakal calon bupati yang ikut bertarung dalam pilkada ketiga kabupaten Malaka. Meskipun masih memiliki keturunan darah biru, tapi kesehariannya sangat berbeda dengan lainnya, berbeda dengan anak petani asli yang tak punya trah darah biru. Beliau menanggalkan darah birunya. Inilah yang sengaja tak dipahami oleh kebanyakan orang.
Rakyat Malaka yang mayoritas petani, memiliki dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, tentu menjadi sekolah karakter beliau. Beliau percaya bahwa lingkungan kehidupan rakyat lah yang membentuk kesadaran.
Dengan karakter seperti inilah beliau memulai peradaban politiknya. Menjalin perkawanan dan jaringan politik. Tampak pada perhelatan pilkada tahun 2020, juga pilkada kali ini. Politik tak boleh ada pembelahaan, kekuasaan harus dipergunakan secara adil. Membangun Malaka harus dengan pikiran yang mengedepankan aspek pemerataan. Istilah fehan dan foho perlu ditiadakan.
Karakter mudah akrab dengan siapa saja, dengan semua kalangan ini adalah modal penting dalam memimpin. Ia dapat tampil sebagai kepala daerah yang mengedepankan dialog. Dialog menjadi kunci untuk mewujudkan Malaka sebagai rumah kita bersama. Tentunya, sikap rendah hati adalah pokok penting dalam dialog.
Saat ini, harus diakui bahwa simpati publik terhadapnya tinggi. Apalagi berpasangan dengan figur yang juga memiliki kerendahan hati. Tak dapat dipungkiri bahwa simpati publik terhadap keduanya adalah angin sejuk, tanda awal menuju kemenangan. Semakin terang benderang bila dikalkulasikan logika politik praktis Malaka yang mengedepankan unsur asal dapil. Kim Taolin adalah satu satunya utusan dari dapil tiga. Ibaratnya, simpati publik adalah sekoci-sekocinya, sedangkan kalkulasi dapil adalah kapalnya.
Namun, mirisnya banyak orang mengatakan bahwa orang dari dapil tiga (Kim Taolin) tak layak jadi pemimpin. Pemikiran ini adalah bentuk ekspresi kepanikan dari dinamika politik saat ini. Model kampanye yang tak mencerminkan gaya memajukan Malaka. Mereka melakukan kontra yang tak berbasis, dalam bahasa beberapa orang yakni melakukan propaganda diatas pasir.
Bersama Edu Bere Ato, mereka menarik sekali banyak sekali dukungan. Kaum perempuan, pemuda, tokoh adat, maupun orang dari berbagai kalangan profesi. Mereka menaruh simpati pada kesantunan politik yang dimiliki oleh pasangan dengan tagline Kita-Eba.
Keduanya layak jadi pemimpin sekaligus teladan yang menghargai martabat siapapun. Karenanya, tentu logika politik yang berpotensi menghancurkan persaudaraan akan ditiadakan, semisal politik balas dendam. Kita-Eba adalah sosok pemimpin yang takkan membalas air susu dengan air tuba.